Jepang Memperkenalkan Inovasi Penangkapan Ikan

Jepang Memperkenalkan Inovasi Penangkapan Ikan – Tim perikanan dari Jepang dan Thailand menghadirkan teknologi modern penangkapan ikan yang ramah lingkungan, yang disebut set internet untuk pemancing Aceh untuk mengatasi risiko eksploitasi perikanan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)

“Perangkat teknologi modern web ini sebenarnya telah dilaksanakan di Jepang dan Thailand, yang hasilnya sangat memuaskan, selain ramah lingkungan,” klaim Prof. Arimoto dari Tokyo University of Science serta teknologi modern pada tes yang diadakan dan kemajuan jaring, di Banda Aceh, Jumat (11/08)).

Dia menjelaskan, koleksi web adalah alat pancing yang beroperasi sebanding dengan perangkap bambu. Koleksi jaring yang terbuat dari jaring biasanya digunakan oleh pemancing biasa, katanya.

Set web dapat dipasang sekitar kedalaman 15 meter untuk ukuran kecil, 40 meter untuk dimensi sedang dan lebih dari 40 meter untuk ukuran plus, sementara perangkap standar hanya mencapai kedalaman 3 meter.

Jepang Memperkenalkan Inovasi Penangkapan Ikan

Selain ramah lingkungan karena perairan pantai dilestarikan, jaring juga mengembangkan kerja tim di antara pemancing sehingga mengurangi sengketa yang timbul dari perebutan daerah penangkapan ikan.

“Situasi ekonomi pemancing juga meningkat karena fakta bahwa hasil tangkapan segar dan dapat dijual dengan biaya tinggi,” katanya.

Cara mengatur pekerjaan internet, menurutnya sangat mudah karena nelayan hanya menggiring ikan menggunakan jaring pemimpin ke tangkapan terakhir, untuk memastikan bahwa ikan dalam kondisi segar dapat dikumpulkan setiap hari.

Menurutnya, memancing oleh nelayan standar dengan menggunakan peralatan memancing yang berbeda dapat menyebabkan penurunan pasokan ikan dan juga kerusakan lingkungan.

Di Jepang, 15 ribu set unit web telah dipasang di sepanjang garis pantai Jepang dan manufaktur ikan mereka memiliki pembayaran terbesar sepertiga dari semua produksi ikan.

Alat Penangkapan Yang Modern

Penjabat Kepala Solusi Perikanan Provinsi NAD, Razali AR, menyatakan bahwa inovasi ini akan digunakan oleh para nelayan Aceh dalam waktu dekat setelah dievaluasi di wilayah Kabupaten Aceh Besar serta Wilayah Bireuen.

“Kami akan pergi ke Bireuen untuk melihat kondisi perairan dan juga lokasi fisik. Jika sesuai, kami akan mencobanya di sana jika memungkinkan, kami akan mencobanya di semua perairan Aceh, namun ini membutuhkan banyak dana , “katanya.

Penerapan teknologi modern diharapkan dapat memperoleh bantuan dari pemerintah karena daerah tersebut masih biasa dan juga peralatannya membutuhkan biaya besar sekitar Rp100 juta per unit pengumpulan internet berdimensi kecil.